Kategori: Judi Esports

2020-12-17 0

Konspirasi Judi Esport dan Steam Marketplace

By editor

Gamer mana yang tidak kenal dengan Steam? Steam memberikan berbagai akses kemudahan dalam bermain game. Ditambah lagi dengan peluncuran fitur Steam Marketplace. Steam Marketplace diluncurkan pada tahun 2012 yang berfungsi untuk transaksi jual beli in-game item secara bebas.

Di momen yang hampir bersamaan, event esport dunia pun tumbuh dengan sangat pesat. Pada tahun 2011 terdapat event yang memiliki hadiah sangat besar yaitu Dota 2 The International yang termasuk sebagai salah satu event terbesar di dunia. Semenjak event tersebut, skala hadiah dan event yang ada terus membesar dari tahun ke tahun. Counter Strike: Global Offensive pun juga memiliki hajat sendiri dengan hadiah yang fantastis.

Tentunya esport tetaplah seperti olahraga professional lainnya. Selain turnamen dan event bergengsi tersebut, esport memiliki usaha sampingan di Steam Marketplace, yaitu perjudian.

Transaksi jual beli in-game item yang menggunakan real money tentu saja bukan suatu hal yang asing dan baru dalam dunia game online. Sebut saja Ragnarok Online dan Gunbound, merupakan contoh pengaplikasian real money trading atau RMT. Hanya saja di era tersebut, praktek ilegal itu dilarang dan di banned oleh developer, sedangkan Steam justru mendukung dan memfasilitasinya.

judi esport

Fasilitas dari Steam ini singkat cerita meniadakan batasan antara harta virtual dan riil. Item langka yang sangat sulit didapatkan di dalam game masih bisa didapatkan melalui fasilitas ini dengan keberuntungan alias memiliki efek yang sama seperti menang undian di dunia nyata. Tentunya hal ini menarik minat para gamer untuk mendapat keuntungan dengan cara yang mudah.

CS: GO atau Counter Strike: Global Offensive adalah salah satu game Steam yang bisa mendapat fasilitas dari Steam untuk fitur jual beli melalui Steam Marketplace. In-game item berupa weapon skin akhirnya menjadi pilihan dari pihak developer untuk diperjualbelikan di Steam Marketplace. Berkat implementasi sistem ini, popularitas CS:GO semakin meningkat pesat. Tercatat sebanyak 23 juta orang memainkan game ini. Angka yang cukup sensasional mengingat CS:GO bukanlah game gratis. Gamer harus membeli game ini terlebih dahulu untuk bisa memainkannya.

Mekanisme judi digital ini tidak menggunakan uang nyata secara langsung, namun dengan pertaruhan in-game item, contohnya weapon skin CS:GO. Saat menang taruhan, player tidak akan serta merta mendapat uang di dunia nyata melainkan akan mendapat weapon skin sesuai taruhannya. Weapon skin itulah yang kemudian bisa diproses untuk dijual dan dijadikan uang riil melalui beberapa situs tertentu.

Taruhan konvensional yang umum terjadi contohnya adalah dengan bertaruh kepada salah satu time sport favorit ketika turnamen berlangsung, mirip seperti mekanisme judi bola. Seiring berkembangnya jaman, beberapa situs judi memberikan variasi permainan yang lebih menantang seperti contohnya duel melawan player lain dalam adu keberuntungan. Kedua pihak sepakat untuk mempertaruhkan beberapa item atau skin, kemudian pemenang akan diundi melalui lemparan koin. Pemain yang memiliki tebakan koin yang benar akan mendapatkan semua item yang dipertaruhkan kedua pihak.

Tidak hanya di dunia riil, di dunia esport juga mempermasalahkan legalitas perjudian, serta secara terang-terangan memberikan pengaruh buruk pada iklim kompetitif itu sendiri. Sebuah kasus terjadi kepada seorang pemain Dota 2 professional bernama Alexei “Solo” Berezin pada tahun 2013. Ia kedapatan memasang taruhan melawan timnya sendiri. Atas tindakan yang tidak terpuji ini, Solo di banned untuk mengikuti turnamen Starladder selama satu tahun dan sanksi dikeluarkan dari tim roX.KIS.

Esport kini menjadi ladang judi yang cukup besar seiring dengan melonjaknya popularitas industri ini. Tak ayal, event kompetitif dunia untuk CS:GO juga kebagian kasus manipulasi. Tepatnya di tahun 2015, tujuh pemain CS:GO professional diberikan hukuman ban seumur hidup karena terlibat praktek perjudian.